Dengan berupaya menjadi orang baik dan melakukan yang terbaik, maka kebaikan itu akan selalu ada disekitar kita. Sehingga tak perlu kesempurnaan untuk bisa berbahagia. Karena bahagia sesungguhnya adalah ketika kita melihat apapun secara sempurna.

Minggu, 27 Mei 2012

Bagaimanakah Perempuan di Otak Lelaki?


Kamu tahu kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab?
Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi.
Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi.
Dan kamu tahu? Di kampus tempat saya seharian di sana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak.
Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.
Melihat ke depan ada perempuan berlenggok dengan seutas "Tank Top", menoleh ke kiri pemandangan "Pinggul terbuka", menghindar ke kanan ada sajian "Celana ketat plus You Can See", balik ke belakang dihadang oleh "Dada menantang!"
Astaghfirullah... kemana lagi mata ini harus memandang?
Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah!
Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu.
Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang.
Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata.
Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata.
Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran "ngeres" dan hatipun menjadi keras.
Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi.
Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki dengan memakai aset berharga yang mereka punya.
Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks.
Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu.
Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya.
Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih... dan lebih lagi.
Dan anda tahu apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki?
Yaitu: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!
Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki.
Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan?
Saya yakin anda menjawabnya "lelaki" bukan?
Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.
Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual.
Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin.
Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima.
Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.
Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini.
Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya.
Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana?
Apakah saya harus menikmatinya...? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini.
Bagaimana nanti saya mempertanggung-jawabkannya?
Sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.
Allah Ta'ala telah berfirman: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya", yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nuur : 30-31).
Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini.
Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa mempertanggung- jawabkannya nantinya.
Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.
Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini.
Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa.
Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk? Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?
So, berjilbablah ... karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempersona dan tentunya sejuk dimata.


Minggu, 13 Mei 2012

Sosok Jiwa Yang Tertidur, Hidup Dalam Mimipi

Berawal dari tiada, wajah yang melayang-

layang dalam pikiran

teracak tak beraturan. Coba dan terus 

mencoba 

mencari solusi untuk


bagaimana pun caranya mencari jalan keluar 

untuk titik terangnya.


Sakit rasanya bagaikan tercelup di dalam 

lumpur. .


Akan ku tuang hingga batas maksimal 

kemampuanku.


Agar kau mau mengerti, dibalik semua cerita, 

nada, bahasa, yang pernah ada.


Pedasnya air samudra dan kemunafikan, 

hak-hak 

yang selalu terlupakan.


Langkah-langkah harapan yang hilang, lenyap 

bersama omong kosong yang membentang.


Jika dapat ku bentangkan mimpi, dan ijinkan 

ku menjinakkan duka.


Karena mata ini terlalu lelah menyimak 

derita, dan hati ini terlalu letih menapaki 

hari.


Dari setiap kurikulum yang dustakan intisari 

kebenaran


Kau lempar pradigma tentang perdamaian, 

mengaliri kebenaran


ke sudut kemunafikan.,

Waktu akan segera bicara, dihinanya cerita 

yang menghias arti perjalanan ini.
 

#Kaum Pinggiran



Jadi Budak Karena Kebebasan

Tidak ada kebebasan mutlak. Setiap aktivitas individu dan kelompok akan dibatasi oleh aktivitas individu atau kelompok lainnya. Setiap individu dan kelompok tidak akan dapat secara bebas bertindak dan berbuat sesuai dengan keinginannya. Di manapun.
Di negara-negara Barat sekalipun, yang menganut faham liberalisme, siapapun yang menginginkan dan menghendaki kebebasan mutlak, hanyalah khayalan belaka.
Di Barat yang menganut faham liberalisme, tetap saja tidak ada kebebasan yang bersifat mutlak. Di Barat sangat dikenal diskriminatif, dan sangat tidak toleran. Karena di Barat faham Yahudi yang bersumber ajaran Talmud sudah masuk ke dalam sunsum, mendarah daging di dalam kehidupan rakyatnya.
Praktek-praktek segregasi (pemisahan berdasarkan ras) terjadi dalam kehidupan sehari-hari.  Bukan hanya di Afrika Selatan terjadinya rasialisme dan segregasi berdasarkan ras.
Di Amerika Serikat berlangsung perjuangan kaum kulit hitam, beratus tahun yang berjuang mendapatkan hak-hak mereka. Tokoh-tokoh mereka dibunuh dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.
Bahkan di Baratpun umat Islam tidak bebas menjalankan keyakinannya. Jika umat Islam bebas, seperti dalam prinspip : Freedom of Speech, Freedom of Expression, dan Freedom of Faith, tentu umat Islam bebas menjalankan keyakinannya. Tidak dilarang adzan, yang dianggap mengganggu, termasuk menggunakan atribut Islam. Tidak dilarang dalam berdakwah, dan menyampaikan  Islam tidak dicurigai.
Tokoh pejuang kulit hitam di Amerika Serikat seperti Malcom X tewas, sesudah masuk Islam. Sejatinya tidak ada kebebasan. Padahal agama merupakan hak dasar bagi manusia. Spirit kebebasan yang ada hanyalah dalam kontek menghancurkan kehidupan manusia. Seperti yang diinginkan kaum Talmud.
Kebebasan yang dimaksud adalah manusia meninggalkan keyakinan agamanya, dan kemudian menjadi manusia yang dijajah, dan diperbudak oleh dirinya  sendiri, dan kekuatan yang tak nampak (invissible hand), yang secara tidak nyata hakekatnya menguasai manusia pada hari ini.
Freedom of speech, freedom of expression, dan freedom of the faith, tak lain sebuah cara yang digunakan kaum Talmud, yang bertujuan agar golongan manusia lainnya, yang  bukan Yahudi bisah dijajah dan diperbudak. Sebuah keyakinan yang tertanam kuat, dan sudah menjadi “credo”  (keyakinan) masyarakat Barat, yang sering disebut-sebut tentang kebebasan itu, tak lain hanya kepalsuan belaka.
Freedom of speech, freedom of expression, dan freedom of faith, tujuannya hanyalah sebagai sarana (wasilah) menghancurkan golongan lain, diluar golongan kaum Talmud. Persepsi freedom of speech, freedom of expression dan freedom of faith, hanyalah sarana mengerluarkan ide-ide pemikiran dan gagasan yang merusak bagi golongan lain di luar kaum Talmud.
Seperti belakangan di Indonesia, sesudah era reformasi ini, lebih banyak lagi golongan yang berbicara tentang kebebasan, pluralisme, kesetaraan, dan justice, yang sejatinya semua itu hanyalah digunakan membongkar nilai-nilai mulia di dalam Islam.
Umat Islam tidak boleh lagi meyakini agamanya, dan menjadikan sebagai sesuatu yang bersifat mutlak. Agama menjadi relatif. Semuanya itu, bermuara kepada kepentingan kaum Talmud, yang sesudah orang tidak percaya lagi terhadap agamanya, akhirnya tidak lagi memiliki aturan hidup, dan kemudian menuju kehancuran. Itulah tujuan akhhir dari kaum Talmud.
Terlalu banyak kalangan Islam dan aktivis yang bersedia menjadi bagian dari gerakan kaum Talmud di Indonesia. Mereka dengan sadar rela menjadi bagian dari gerakan kaum Talmud, yang  menginginkan agar umat Islam melepaskan keyakinannya.
Jika umat Islam sudah tidak yakin lagi dengan keyakinan agamanya, akhirnya akan dengan  sangat mudah dimasuki nilai-nilai dari ajaran Talmud. Jadi hakekatnya gerakan “Freedom of speech, Freedom of expression dan Freedom of Faith”, hanyalah sebuah proses jebakan yang dijalankan agen-agen Talmud yang ada di negeri-negeri Islam. Gerakan mereka selalu berkedok dengan kebebasan dan demokrasi.
Dalam protocol : “Talmud yang Pertama” paragraf itu berbunyi :
“Sejak masa kuno, kita adalah orang pertama yang meneriakkan kata-kata “kebebasan, persamaan,dan persaudaraan”, diantara manusia. Kata-kata itu telah berkali-kali oleh beo-kampanye pemilihan umum, yang menghimpun orang-orang untuk mendengarkan umpan ini dengan mana mereka telah meruntuhkan kemakmuran dunia dan kemerdekaan abadi yang sejati. Orang non-Yahudi yang menyangka dirinya pandai dan cerdas tidak mengerti perlambang dari kata-kata tadi, tidak mengambil kontradiksi makanya, tidak memperhatikan bahwa secara kodrati tidak ada persamaan”.  
Masyarakat Barat adalah masyarakat yang sudah dijajah dan diperbudak oleh ajaran Talmud. Mereka sudah tidak lagi dapat berbuat-buat apa-apa. Dari seluruh segi kehidupan. Masyarakat Barat yang secara nilai sudah menjadi masyarakat materialis itu, sudah lemah, tersungkur dibawah telapak kaki kaum Talmud. Inilah kemenangan sejati kaum Talmud.
Kapitalisme yang bertumpu pada industri, di mana ujung dari kapitalisme itu, tak lain kesengseraan manusia, yang menjadi alat produksi. Para pekerja atau buruh, yang dikendalikan para pemilik modal itu, tak akan pernah selamanya dapat menghadapi para pemilik modal. Karena para pemilik modal sudah mengendalikan negara melalui pemilihan dan demokrasi. Para senator dan pemimpin negara hanyalah menjadi alat kaum pemilik modal  belaka.
Siapa pemilik modal? Mereka ini adalah para kapitlis  Yahudi, di mulai dari Rochstchilds sampai Warren Buffed, atau Rupert Murdoch. Bagaimana hanya 1 persen pemiliki modal, yang  bercokol di Wall Streets, menguasai 99 persen rakyat Amerika.
Para buruh yang miskin dan pekerja, yang miskin akibat krisis ekonomi, seperti yang terjadi di Amerika dan Eropa, mereka hanya  bisa melarikan diri dengan cara meminum alkohol. Sehingga, menjadi bangsa yang loyo.
Kebebasan sek, dan tanpa tanggung jawab, hanyalah jalan disajikan kaum Talmud, menghancurkan masyarakat Barat, yang sekarang ini pertumbuhan penduduknya sudah "zeor". Maka dengan cara seperti itu akan sangat mudah menjadi budak-budak kaum Talmud.
Sekarang  di Indonesia datang “tokoh” bernama Irshad Manji, yang membawa faham kebebasan, dan difasailitasi oleh Lembaga Salihara, di Pasar Minggu, mereka hanyalah bertujuan menghancurkan Islam dan umat Islam agar meninggalkan agama mereka, sesuai dengan doktrin dan strategi dari ajaran Talmud.
Jadi kalau Fahri Hamzah, yang pernah menjadi Ketua KAMMI, dan aktivis PKS itu, mengatakan, bahwa Tuhan saja membiarkan setan hidup kok kita menentang freedom of speech, dan secara substansial UUD  ’45 menjamin kebebasan berpendapat, maka diskusi apapun bebas”, dan ini berarti Fahri Hamzah sudah masuk dalam jebakan kaum Talmud.
Tidak ada kebebasan yang mutlak di dalam kehidupan. Setiap kebebasan yang tanpa aturan hanyalah akan melahirkan kekacauan dan konflik. Kebebasan tidak berarti bertujuan menghancurkan dan menghina ajaran Islam yang menjadi keyakinan 1,5 miliar penduduk bumi ini. Wallahlu’alam.

Ayah, Aku Ingin Bicara

  
Ayah, aku ingin bicara…
Tiap hari kulihat kelelahan di kerut wajahmu
Semua hanya demi aku, anakmu
Ayah, aku ingin bicara…
Meski aku hanya diam, kau tahu apa yang kuingin
Semua kau penuhi dengan balutan kasihmu untukku
Ayah, aku ingin bicara…
Kurasakan begitu berat hatimu jauh meninggalkanku
Tiap jam kau menelponku
Meski kau tahu, tak kan bisa mendengar suaraku
Hanya ketukan jariku sebagai isyarat
Dan kau selalu mengakhiri dari ujung telepon dengan kata yang sama, “Alhamdulillah”
Ayah, aku ingin bicara…
Sepanjang hidup kau berharap dapat mendengar suaraku
Segala upaya kau lakukan
Kini aku hanya bisa mengusap nisanmu
Masih diam tanpa suara
Ayah, aku ingin bicara…
Sungguh aku ingin bicara
Andai aku bisa, aku hanya ingin bicara satu kalimat
Ya, satu kalimat saja
“Aku mencintaimu, ayah…”
Hanya itu yang ingin aku bicarakan padamu
Tapi hingga kini hanya hatiku yang mampu bicara
Belum dengan lisanku
Ayah, aku ingin bicara…
Dan semoga kau mendengarnya…





As-Salaamu’alaykum Polisi Indonesia… Kami mencintai kalian karena Allah

Teriakan salam itu disampaikan oleh sekelompok polisi Palestina berpakaian loreng biru tua dan muda, berbaret hitam, di depan kamera video Tim Amanah Indonesia (Sahabat Al-Aqsha). Mereka yang menyampaikan salam itu berasal dari Pasukan Khusus (kesatuan Brimobnya) Kepolisian Palestina.

Seorang instruktur latihan berbadan tinggi besar, berjenggot lebat, dan murah senyum, lalu menyampaikan harapan di depan kamera, “Insya Allah, dalam waktu tak lama lagi kita akan bersama-sama solat Masjidil Aqsha dalam keadaan merdeka!” Sambil tangannya menunjuk ke mural masjid suci itu di dinding di belakang mereka.

Sambutan yang ramah penuh persaudaraan sangat terasa, saat Tim Amanah Indonesia mengunjungi Markas Besar Kepolisian Palestina di Jalan ‘Umar Mukhtar, Madinah Gaza. Kami ditemani oleh Muqaddam (Ajun Komisaris Besar Polisi) Munir Abu Syanab, Kepala Humas Interpol Palestina, dan Muqaddam Nasser Abduh, Wakil Kepala Humas Mabes Kepolisian Palestina.
Belum sampai memasuki gedung utama markas kepolisian itu, seorang lelaki berbadan tegap, berkaos polo putih menyambut kami. “Maafkan saya, menyambut Anda mengenakan pakaian seperti ini, hari ini ada acara olah raga dan jalan-jalan santai,” kata lelaki itu sambil tersenyum. Ia adalah ‘Amid (Brigadir Jenderal Polisi) Amin Al-Batniji, Direktur Penerangan Kepolisian Palestina, yang langsung mengajak kami ke ruangannya.
Menurut berbagai laporan yang kami himpun, angka kriminalitas di Jalur Gaza yang penduduknya berjumlah 1,7 juta jiwa menurun sangat drastis, sejak kawasan ini dibebaskan dari seluruh kekuatan militer penjajah Zionis maupun kakitangannya tahun 2005.
Padahal, sejak tahun 2007, pengepungan yang dilakukan Zionis Israel terhadap Jalur Gaza telah melumpuhkan hampir seluruh kekuatan ekonomi wilayah itu.
Biasanya, kalau ekonomi sekarat, rakyat akan memberontak, dan kekacauan sosial, termasuk angka kejahatan akan meningkat. Tapi teori ini tidak berlaku di Gaza. Apa penjelasannya?
Menurut Brigjen Pol. Amin Al-Batniji, pengepungan dan ancaman fisik dari luar justeru telah memperkuat kepribadian masyarakat Gaza.
“Lebih dari itu, karena pemerintah Gaza adalah pemerintah Muslim yang menjalankan keislamannya, rakyat pelan-pelan semakin sadar bahwa Allah-lah Ar-Razaq, Yang Maha Memberi Rezeki,” demikian penjelasan Amin.
Pengepungan ini, menurutnya, justeru menyuburkan sikap sabar dan qanaah di kalangan masyarakat. “Kalau pemimpin dan rakyat sama-sama melaksanakan Islam dan mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan memberikan ketenangan dan keamanan. Aman itu milik Allah, bukan milik manusia,” jelas Amin.
Selain itu menurut Amin, Islam juga menumbuhkan persaudaraan yang positif. Masyarakat di Gaza yang sama-sama sedang dikepung musuh, jadi mudah saling menolong, terutama menolong mereka yang paling lemah secara ekonomi.
Salah seorang pejabat tinggi di Kementerian Dalam Negeri Palestina (kementerian yang membawahi kepolisian) menceritakan, bahwa pejabat seperti dirinya setiap bulan dipotong gajinya oleh pemerintah untuk membantu orang miskin di negeri itu.
“Setiap bulan Ramadhan, potongannya tambah besar,” tukasnya. Pejabat tinggi itu menjelaskan, rezeki para pejabat Palestina di Gaza justeru semakin berkah dengan pemotongan yang bisa sampai 30% itu.
Kunjungan dilanjutkan dengan berkeliling markas yang membentang dari tengah kota sampai ke pinggir pantai Gaza itu.
Di berbagai bagian bangunan, nampak bekas-bekas tembakan senjata-senjata pesawat tempur maupun helikopter Zionis Israel pada Perang Al-Furqan (akhir 2008 sampai awal 2009).
Lubang-lubang bekas peluru kaliber besar bertebaran di dinding-dinding bangunan, dan sengaja tidak diperbaiki. Di bagian lain markas itu, ada puluhan bom dalam berbagai ukuran dipamerkan. Ada beberapa yang besarnya lebih dari tubuh manusia dewasa. Ini adalah sebagian bahan peledak yang disiramkan Zionis kepada rakyat Gaza. “Supaya kami dan dunia tetap mengingat kejahatan Zionis Israel,” kata Muqaddam Nasser Abduh.
Kita semua tentu ingat, pemandangan yang menyayat hati pada Perang Al-Furqan yang oleh Zionis disebut sebagai Operation Cast Lead (Operasi Timah Panas) itu, dalam 10 menit pertama jam 8 pagi, tanggal 27 Desember 2008, sekitar 200-an orang petugas kepolisian yang sedang apel pagi dibantai dengan berondongan senjata dan bom oleh pesawat-pesawat F-16 bikinan Amerika Serikat milik Zionis Israel.
Selain jenazah para polisi Palestina yang bergelimpangan, kita juga menyaksikan gambar-gambar polisi yang terluka parah mengacungkan jari telunjuknya sambil berkata, “Laa ilaaha illa Allah… Tiada Tuhan selain Allah…”
Pada penyerangan Zionis Israel itu, ikut juga mati syahid tiga pejabat tertinggi Kementerian Dalam Negeri, yaitu Mayjen Pol. Taufiq Jabir, Kepala Kepolisian Palestina; Muhammad Al-Ja’bari, Direktur Unit Keamanan dan Pengawalan; dan Sa’id Shiyam, Menteri Dalam Negeri-nya sendiri.
“Ini menunjukkan, bahwa para pejabat tinggi kami adalah yang pertama kali mengorbankan nyawanya bagi rakyat Palestina,” kata Muqaddam Munir Abu Syanab. “Mereka tidak bersembunyi di balik kedudukannya sebagai pejabat tinggi. Mereka semua mati syahid di lapangan saat menjalankan tugas.”
Nama-nama para polisi yang mati syahid dalam Perang Al-Furqan itu diabadikan dalam sebuah prasasti yang terletak di lapangan Markas Besar Pasukan Khusus Kepolisian Palestina.
Di atas nama-nama itu tertulis kalimat yang dikutip dari ayat Al-Quran surah Al-Ahzab ayat 23:
“Di antara orang-orang beriman (Mu’min) itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya).”
Jumlah anggota kepolisian Palestina yang bermarkas di Gaza saat ini sekitar 10 ribu orang. Secara umum menurut Brigjen Pol. Amin Al-Batniji, tidak ada kasus kriminalitas yang luar biasa.
“Justeru kami sebagai masyarakat sedang mengalami kejahatan kriminal yang dilakukan oleh penjajah atas kami semua,” katanya sambil tersenyum.
Namun demikian, Alhamdulillah, kata Amin keamanan dan ketertiban masyarakat semakin baik.
Kasus yang sesekali masih terus mengganggu adalah penyelundupan narkoba dan minuman keras dari kawasan yang dikuasai Zionis Israel dan Mesir. Rata-rata dalam setahun ada sekitar 20 orang yang ditangkap karena kasus ini.
Kasus kejahatan lain adalah pembunuhan akibat perkelahian. Misalnya, karena ada anggota keluarga yang berzina, lalu dibunuh. Ada juga pencurian emas dan barang-barang berharga, biasanya dilakukan oleh remaja.
Menurut berbagai perbincangan dengan masyarakat awam, secara umum, Gaza yang sekarang lebih aman dari Gaza sebelum dikepung oleh Zionis Israel.
Semakin banyak perempuan yang berhijab, menutup aurat sesuai tuntunan Islam, meskipun tidak ada undang-undang yang secara eksplisit mewajibkan hijab.
Dari hasil pengamatan selama tiga minggu Tim SA2Gaza berada di Gaza, perempuan dewasa yang nampak keluar rumah tanpa menutup aurat bisa dihitung dengan jari.
Secara umum tugas petugas kepolisian Palestina di Jalur Gaza meliputi pengaturan lalu-lintas, mencegah dan memberantas narkoba, melakukan berbagai investigasi, patroli keamanan di rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, dan lain-lain.
Menurut Kepala Interpol Palestina Mayjen Pol. Mahir Ar-Ramli, ketika Gaza belum dikepung Zionis Israel dan masih berada di bawah kekuasaan pemerintah Fatah, setiap dua malam selalu terjadi pemerkosaan, pembunuhan, dan perampokan.
Menurut Mayjen Pol Mahir, di masa itu Gaza dikuasai oleh Fatah, penguasa ketika itu adalah gabungan dari kelompok-kelompok yang selalu ingin memperbesar wilayah kekuasaannya masing-masing. Termasuk juga dengan cara melindungi kelompok-kelompok kejahatan.
“Warga yang memiliki rasa takut yang besar kepada Allah SWT, tidak akan melakukan kejahatan yang menyusahkan orang lain maupun dirinya sendiri,” kata Mahir.
Dalam kesempatan berkunjung ke Pusat Pendidikan dan Latihan Kepolisian Palestina, yang terletak di pinggir pantai yang indah, Tim SA2Gaza sempat menyaksikan para anggota polisi yang baru saja apel pagi, bergantian menggunakan sajadah untuk melaksanakan solat dhuha di lapangan.
Muqaddam Hisyam Al-Kariri, Wakil Direktur Pusdiklat Kepolisian Palestina, menjelaskan kepada Tim SA2Gaza selain dididik dan dilatih keterampilan profesional sebagai polisi, seluruh anggota kepolisian Palestina juga dididik ruhiyahnya secara sungguh-sungguh.
“Selain secara rutin mereka membaca dan memahami Al-Quran, salah satu kurikulum dasar pendidikan kami juga tafsir surah Al-Anfaal dan At-Taubah yang wajib difahami dan dihayati setiap anggota kami,” kata Muqaddam Hisyam di sela-sela latihan.
Dalam memperkuat sistem ketertiban dan keamanan masyarakat, kepolisian Palestina juga melakukan kerja sama penerangan dengan masjid-masjid, saluran televisi dan radio Al-Aqsa, Al-Quds, Al-Bayan, Al-Ayyam, Ar-Risalah, dan Filistin.
Di akhir perbincangan, Brigjen Pol. Amin Al-Batniji mengundang Kepolisian Republik Indonesia untuk datang ke Jalur Gaza dan bersilaturrahim dengan kepolisian Palestina. “Ahlan wa Sahlan. Silakan datang, kalau bisa dilakukan akan menjadi suatu kehormatan bagi kami,” katanya.


Minggu, 29 April 2012

Senjata Kaum Tertindas


Kelemahan orang-orang kuat adalah kekuatan orang-orang lemah. Kelemahan orang-orang kaya adalah kekuatan utama orang-orang miskin. Sedangkan kelemahan terbesar para penguasa dzalim adalah kekuatan terhebat para rakyat jelata yang miskin papa. Bagaimana kita membangun keyakinan bahwa sekumpulan orang miskin bisa melakukan revolusi besar, bagaimana nyali kaum tertindas bisa menggerakan perubahan menuju keadaan yang lebih baik, lebih memanusiakan manusia.
Kekuatan rakyat, jika disatukan, tidak akan ada penguasa yang berdaulat. Jika rakyat bersatu seharusnya tidak bisa dikalahkan. Inilah jargon-jargon revolusi yang terus dikibarkan tanpa lelah. Rakyat tidak boleh lelah, jika lelah kekuatan mungkar akan merajalela. Setidaknya ada empat kekuatan besar yang dimiliki kaum marginal atau miskin antara lain; Pertama, orang lemah adalah orang yang paling kuat menderita. Kedua, orang lemah dan tertindas adalah orang yang tidak gampang putus asa dan mau mengorbankan apa saja yang dimiliki untuk perjuangan termasuk nyawa. Ketiga, kekuatan kelompok tertindas selalu dalam jumlah besar. Terakhir, adalah kekuatan pada doa.

Pertama, ketahanan menjalani kehidupan dalam serba kekuarangan dilakoni orang miskin turun temurun sampai cucu dan cicitnya. Ini adalah kekuatan yang tidak pernah dimiliki penguasa dan pemegang kekuasaan. Jika senjata orang lemah ini bisa dimanfaatkan, diindustrialiasikan dalam bentuk energi perubahan tentu revolusi kebaikan akan muncul tidak lama. Inilah yang disebut James Scoot (year) ’sebagai senjata orang-orang lemah’. Secara naluri orang tertindas mempunyai cara untuk bertahan dan berjuang baik dengan cara frontal atau secara diam-diam. Perubahan hanya dimulai dari keadaan buruk dan timpang.
Kedua, ada bukti empiris yang snagat kuat yang menolak pendapat Mancur Olson (year) bahwa rakyat miskin tidak akan bertindak secara kolektif walau mereka mempunyai kepentingan yang sama. Saya akui argumen tersebut ada benarnya tetapi kenyataan di beberapa tempat menunjukkan fenomena yang berbeda. Kasus perlawanan rakyat melawan kompeni di Indonesia, reformasi 1998, kasus mbah priok, kasus demonstrasi korban gempa di Yogyakarta untuk mendapatkan keadilan, kasus pembagian BLT yang didemo warga di beberapa tempat. Artinya kesadaran untuk bergerak dan menuntut hak sudah sangat lazim ada dalam pikiran dan perasaan manusia. Ada pepatah, cacing pun menggeliat jika diinjak apalagi manusia yang ditindas tentu diam bukanlah pilihan sadarnya. Mereka ingin bergerak dan merubah keadaan hanya karena buruknya pengorganisasian menjaidikan naluri ‘revolusi’-nya menciut dan mencair. Inilah pentingnya kepemimpinan kaum miskin dan dhuafa (tertindas).Orang miskin dalam sejarahnya, untuk menuntut haknya tidak segan mengorbankan nyawanya. Hal ini bisa dilihat di China, Vietnam, Indonesia, dan Timur Leste. Keberanian mati inilah kekuatan yang tidak pernah dimiliki oleh golongan penindas (kuasa).
Ketiga, orang miskin (tuna kuasa) selalu lebih besar dari jumlah golongan penindas sehingga penguasa selalu berfikir untuk memecah kekuataan massa besar rakyat dengan berbagai cara. Belanda, Amerika, atau kaum penjajah lainnya selalu menggunakan taktik mengadu domba antar sipil. Mereka menciptakan politik devide at empere atau memprovokasi massa agar terjadi konflik horizontal baik berbasis agama, ras, dan etnis. Konflik kelas sangat ditakuti oleh penguasa sebab golongan kapitalis kalah secara jumlah dan hampir dipastikan akan dilumat habis oleh massa yang panas. Karena jumlah besar inilah senjata orang tertindas menemukan kedahsyatannya. Di era negara modern negara sebagai pelaksana kekuasaan selalu takut akan diorganisasinya massa sehingga negara menangkap pemimpin massa karismatik, penulis, dan mengikis habis organisasi massa. Hal ini terlihat di era Suharto dan di zaman modern sekarang ada pamswakarsa, ada pamongpraja, ada hansip


DEMOKRASI DIPERSIMPANGAN MAKNA

Bapak Demokrasi, Filsuf besar Yunani Kuno, Plato (428-348 SM) pernah berkata: “bisa jadi demokrasi menjadi mimpi buruk dalam sistem pemerintahan”. Jika bapak Demokrasi sendiri mengatakan demikian, kenapa orang Islam membela mati-matian sistem kufur buatan kafir ini daripada sistem islam Khilafah yang menerapkan syariat Islam kaffah?
Sungguh miris ketika masih ada orang yang bangga menganut paham demokrasi, bahkan terang2an memperjuangkannya. Padahal sudah jelas bahwa demokrasi lah yang justu membuat kita (terutama umat Islam) semakin terpuruk dalam penderitaan yang berkepanjangan. Tidak arif rasanya ketika kita meneriakan “demokrasi sistem kufur!” tanpa kemudian memberikan argumentasi atasnya, hal ini juga yang diminta oleh salah seorang dosen saya. Oke Pak, ini saya jawab permintaan bapak…
Mendengar kata demokrasi, seolah2 kesan yang tertangkap adalah bagus…”kebebasan, HAM, Toleransi antarumat beragama….” namun coba deh kita lihat sampai ke hakikatnya. Coz seorang muslim akan senantiasa menyandarkan segala perbuatan, perkataan, bahkan pemikirannya pada hukum Allah kan? Nah, jadi perspektif demokrasi yang akan saya tulis ini adalah menurut Islam.

1. Demokrasi bukan Lahir dari Islam
Trus dari mana dong? Yups, Sekulerisme lahir pd zaman kegelapan Eropa, yakni ketika saat itu yang berkuasa adalah kaum gereja (Agama Nasrani). Saat itu pihak gereja (penguasa saat itu) senantiasa ‘mengisap darah’ rakyat dengan memungut pajak yang besar dari rakyatnya. Karena itulah, banyak yang akhirnya merasa terzhalimi. Kemudian muncullah kaum pemikir yang berusaha untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Kemudian dicetuskanlah ide pemisahan agama dari kehidupan yang kemudian dikenal dengan sekulerisme. Ide tersebut lahir karena adanya anggapan jika agama dicampurkan dengan pemerintahan, penderitaan lah yang akan dialami rakyatnya. Sekulerisme inilah yang menjadi akidah demokrasi. Demokrasi sendiri lahir pada era yunani Kuno. Dan saat ini Islam pun termarginalkan karena dianggap sama dengan agama yang saat itu berkuasa (nasrani), yakni tidak dapat menyejahterakan jadi harus dipisahkan dari negara. Padahal jika saja kita mau jujur pada diri kita sendiri, Islam itu bukan hanya agama ritual, tetapi Islam adalah sistem hidup. Segala aspek kehidupan ada aturannya dalam Islam; ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pertahanan, keamanan, dll. Jadi sebenarnya, Islam mampu menjawab tantangan untuk menyejahterakan rakyat.

2. Kekuasaan dan kedaulatan pun diserahkan sepenuhnya kepada rakyat, coz dengan begitu diharapkan rakyat akan memeroleh kesejahteraannya.Padahal dalam Islam, kedaulatan hanyalah milik Allah, bukan milik manusia (rakyat). Jadi, rakyat sungguh sama sekali tidak berhak membuat hukum, karena membuat hukum hanyalah hak Allah (TQS. Al-An’am:57). Dan jika diperhatikan pun, demokrasi tidak benar2 menampung aspirasi rakyat. Karena para wakil rakyat yang duduk di parlemen dn diharapkan mampu mewakilkan suara rakyat pada faktanya tidak pernah meminta persetujuan rakyat sebelum membuat hukum. Kasus Ahmadiyah sebagai contoh, MUI telah dengan tegas menyatakan bahwa aliran tersebut sesat, tetapi pemerintah tidak memberikan respon yang memadai. Perusak akidah umat itu tetap saja dibiarkan berkembang saat ini. Dan sebaliknya, ketika umat Islam meminta diterapkannya perda2 syariah, justru malah ditentang habis. Itukah demokrasi yang katanya menyejaterakan? Sudah jelas bahwa demokrasi tidak akan pernah memberikan kesempatan pada umat Islam untuk hidup di bawah hukum2 Allah.

3. Demokrasi bukanlah Syura’. Karena syura’ artinya meminta pendapat. Sebaliknya, demokrasi adalah suatu pandangan hidup dan kumpulan ketentuan untuk seluruh konstitusi, undang-undang dan sistem (pemerintahan)

4. Demokrasi mengusung empat kebebasan; berpendapat, perkepemilikan, berperilaku, dan beragama. Hasilnya: Ahmadiyah dibiarkan berkembang dengan alasan kebebasan beragama, SDA Indonesia dikuasai asing dengan alasan kebebasan berkepemilikan, Pembuat karikatur Nabi Muhammad dibiarkan bebas karena adanya kebebasan berpendapat, Para pelaku Free Seks dibiarkan dan orang2 yang mengumbar aurat didiamkan karena alasan kebebasan bertingkah laku. IRONIS. Inikah negeri yang sejahtera itu?

5. Suara Mayoritas hanya Omong Kosong. Nyatanya yang didengar adalah suara orang2 berkuasa. Istilah pemerintahan rakyat hanyalah jargon yang sengaja dipropagandakan untuk menipu rakyat, agar mereka merasa ikut serta dalam menentukan arah pemerintahan dengan berpartisipasi dalam mekanisme demokrasi. Padahal nyatanya, yang diuntungkan hanyalah segelintir orang, terutama para pemilik modal dan para elit politik.

Hh…demokrasi..demokrasi.

…yang ditawarkan hanya ilusi.



Rabu, 25 April 2012

TRANSFORMASI GERAKAN MAHASISWA

Dalam sejarah pergerakan mahasiswa masi terlihat banyak persoalan yang terjadi di ruang lingkup akademis itu sendiri, tetapi hal ini tidak pernah disikapi oleh kawan-kawan mahasiswa yang mengatakan dirinya adalah agen of change (sang pembaharu), mereka hanya bisa menjerit sakit dan berteriak dalam hati mereka tetapi mereka tak berteriak melalui mulutnya, akankah mahasiswa harus terus seperti ini ???

Setiap derap langkah kaki mahasiswa selalu melekat dalam dirinya sosok terang yang mampu menyinari sinar redup dalam diri rakyat kecil, akan tetapi sinar terang yang menjadi harapan rakyat dalam diri mahasiswa itu mulai pupus dan menghilang entah kemana, mungkinkah mahasiswa mulai kehilangan arah dan jati dirinya sebagai mahasiswa ataukah mahasiswa tidak lagi mengetahui Tri Darma Perguruan Tinggi yang mana (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat). Di dalam Tri Darma Perguruan Tinggi sudah begitu jelas, akan tetapi mahasiswa tidak lagi memandang tentang hal itu, mahasiswa hanya bisa bermain dengan pemikiran-pemikiran luar yang menguntungkan kelompok. Kepentingan yang menjastifikasi dirinya adalah Nabi Sosial, akankah mahasiswa harus tetap dengan pemikiran luar yang menyesatkan ???

Dunia mahasiswa memang penuh dengan romantika, dimana besar kecilnya akan memberi pengaruh terhadap karakter dan kecenderungan mereka. Keadaan ini secara potensial dapat membawa mahasiswa menuju pada suasana yang sebenarnya tidak bernuansa, bingung akan orientasi serta aksinya. Sebab lingkungan tempat mereka berada sedang digempur oleh beraneka ragam cara dan gaya hidup (life style) yang sepintas lalu tampak lebih menjanjikan “kebahagiaan”. Disini letak masalahnya, arah-arah kesadaran mahasiswa telah dialihkan dari masalah-masalah aktual  yang bergojolak di masyarakat menuju pada suatu keinginan untuk lebih memperoleh kepuasan jiwa lewat pemenuhan hasrat yang sifatnya instant.

Inilah realita mahasiswa saat ini. Mahasiswa yang jauh dari budaya membaca, diskusi, berfikir, dan aksi. Mahasiwa yang tidak lagi peduli dengan ketimpangan sosial disekitarnya. Mahasiswa yang hanya disibukan oleh kepentingan pribadi bahkan menjadi berhala materialisme. Mahasiswa yang lupa bahwa di negrinya masih terdapat 36,7 juta jiwa yang hidupnya di bwah garis kemiskinan, tidaK punya ruma dan hanya tidur beratap kan langit dan beralas kan tanah di pinggir-pinggir jalan

Hilangkan budaya bumkam, apatis dan pragmatis. Kaji fakta masalah secemerlang mungkin dan beri solusi atas masalahtersebut. Katakan masalah meski itu pahit, katakan kebenaran walaupun itu sakit.
Sikap maupun tindakan seseorang sangat di tentukan oleh pemekirannya, sehingga dengan merubaah cara berpikir inilah kita dapat memastikan perubahan sikap pada orang lain. Rekontruksi pemekiran mahasiswa adalah hal yang paling urgen untuk memulai proses kebangkitan dan membangkitkan taraf kehidupan masarakat. Sebab merekalah yang kelak akaan menjadi generasi penerus pendobrak perubahan dan pembangunan di negeri yang sedang terjajah oleh himpitan persoalan hidup. Intervensi asing dan krisis multidimensi yang belum memperlihatkan indikasi penyelesaian.

Hal ini tidak boleh di biarkan terus berlarut, diperlukan upaya yang keras untuk membangkitkan kesadaran yang terpendam oleh mahasiswa sebagai kontrol sosial. Disinilah letak tugas dan tanggung jawap lembaga-lembaga mahasiswa dalam mewadahi dan menyuguhkan pendidikan politik bagi mahasiswa. Hal ini tentunya harus di awali dari reidologisasi lembaga-lembaga mahasiswa itu sendiri. Lembaga-lembaga mahasiswa harus memiliki paradigma dan orientasai yang jelas dalam menyusun arah strategi pergerakan yang mengenah pada episentrum masalah, disamping itu wajib memahami peta polotik dan sosiologi yang ada di tengah masarakat. Sehingga arah gerak yang hendak dituju tidak menjadi kabur.

Di samping itu juga, dikotomi negatif yang justru menjadi pemicu rasa antipati antara pergerakan ekstra dan intra kampus harus segera dihilangkan. Keduanya harus saling bekerjasama untuk membangun dan merumuskan arah perubahan yang akan dituju yakni perubahan yang bersifat fundamental dan mengenai esensi persoalan. Untuk itu diperlukan sebuah mainframe yang menjadi sandaran gerak aktivitas mahasiswa.

Yang tidak kalah pentingnya, lembaga-lembaga mahasiswa harus menjaga kedekatannya dengan para ”mahasiswa awam”. Aktor pergerakan tidak boleh hanya dibatasi pada tingkat elit mahasiswa, yang hal ini justru akan memandulkan potensi raksasa mereka. Wilayah akar rumput harus disentuh melalui program kerja yang diprioritaskan pada pembentukan cara berfikir yang kritis dan ideologis bagi para mahasiswa. Melalui solidaritas serta program-program kerja yang konstruktif bagi pembentukan kesadaran politik mahasiswa, hal ini diharapkan dapat menjadi titik awal yang baik untuk meretas proses perubahan sosial yang benar-benar hakiki.