Dengan berupaya menjadi orang baik dan melakukan yang terbaik, maka kebaikan itu akan selalu ada disekitar kita. Sehingga tak perlu kesempurnaan untuk bisa berbahagia. Karena bahagia sesungguhnya adalah ketika kita melihat apapun secara sempurna.

Minggu, 13 Mei 2012

Ayah, Aku Ingin Bicara

  
Ayah, aku ingin bicara…
Tiap hari kulihat kelelahan di kerut wajahmu
Semua hanya demi aku, anakmu
Ayah, aku ingin bicara…
Meski aku hanya diam, kau tahu apa yang kuingin
Semua kau penuhi dengan balutan kasihmu untukku
Ayah, aku ingin bicara…
Kurasakan begitu berat hatimu jauh meninggalkanku
Tiap jam kau menelponku
Meski kau tahu, tak kan bisa mendengar suaraku
Hanya ketukan jariku sebagai isyarat
Dan kau selalu mengakhiri dari ujung telepon dengan kata yang sama, “Alhamdulillah”
Ayah, aku ingin bicara…
Sepanjang hidup kau berharap dapat mendengar suaraku
Segala upaya kau lakukan
Kini aku hanya bisa mengusap nisanmu
Masih diam tanpa suara
Ayah, aku ingin bicara…
Sungguh aku ingin bicara
Andai aku bisa, aku hanya ingin bicara satu kalimat
Ya, satu kalimat saja
“Aku mencintaimu, ayah…”
Hanya itu yang ingin aku bicarakan padamu
Tapi hingga kini hanya hatiku yang mampu bicara
Belum dengan lisanku
Ayah, aku ingin bicara…
Dan semoga kau mendengarnya…





As-Salaamu’alaykum Polisi Indonesia… Kami mencintai kalian karena Allah

Teriakan salam itu disampaikan oleh sekelompok polisi Palestina berpakaian loreng biru tua dan muda, berbaret hitam, di depan kamera video Tim Amanah Indonesia (Sahabat Al-Aqsha). Mereka yang menyampaikan salam itu berasal dari Pasukan Khusus (kesatuan Brimobnya) Kepolisian Palestina.

Seorang instruktur latihan berbadan tinggi besar, berjenggot lebat, dan murah senyum, lalu menyampaikan harapan di depan kamera, “Insya Allah, dalam waktu tak lama lagi kita akan bersama-sama solat Masjidil Aqsha dalam keadaan merdeka!” Sambil tangannya menunjuk ke mural masjid suci itu di dinding di belakang mereka.

Sambutan yang ramah penuh persaudaraan sangat terasa, saat Tim Amanah Indonesia mengunjungi Markas Besar Kepolisian Palestina di Jalan ‘Umar Mukhtar, Madinah Gaza. Kami ditemani oleh Muqaddam (Ajun Komisaris Besar Polisi) Munir Abu Syanab, Kepala Humas Interpol Palestina, dan Muqaddam Nasser Abduh, Wakil Kepala Humas Mabes Kepolisian Palestina.
Belum sampai memasuki gedung utama markas kepolisian itu, seorang lelaki berbadan tegap, berkaos polo putih menyambut kami. “Maafkan saya, menyambut Anda mengenakan pakaian seperti ini, hari ini ada acara olah raga dan jalan-jalan santai,” kata lelaki itu sambil tersenyum. Ia adalah ‘Amid (Brigadir Jenderal Polisi) Amin Al-Batniji, Direktur Penerangan Kepolisian Palestina, yang langsung mengajak kami ke ruangannya.
Menurut berbagai laporan yang kami himpun, angka kriminalitas di Jalur Gaza yang penduduknya berjumlah 1,7 juta jiwa menurun sangat drastis, sejak kawasan ini dibebaskan dari seluruh kekuatan militer penjajah Zionis maupun kakitangannya tahun 2005.
Padahal, sejak tahun 2007, pengepungan yang dilakukan Zionis Israel terhadap Jalur Gaza telah melumpuhkan hampir seluruh kekuatan ekonomi wilayah itu.
Biasanya, kalau ekonomi sekarat, rakyat akan memberontak, dan kekacauan sosial, termasuk angka kejahatan akan meningkat. Tapi teori ini tidak berlaku di Gaza. Apa penjelasannya?
Menurut Brigjen Pol. Amin Al-Batniji, pengepungan dan ancaman fisik dari luar justeru telah memperkuat kepribadian masyarakat Gaza.
“Lebih dari itu, karena pemerintah Gaza adalah pemerintah Muslim yang menjalankan keislamannya, rakyat pelan-pelan semakin sadar bahwa Allah-lah Ar-Razaq, Yang Maha Memberi Rezeki,” demikian penjelasan Amin.
Pengepungan ini, menurutnya, justeru menyuburkan sikap sabar dan qanaah di kalangan masyarakat. “Kalau pemimpin dan rakyat sama-sama melaksanakan Islam dan mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan memberikan ketenangan dan keamanan. Aman itu milik Allah, bukan milik manusia,” jelas Amin.
Selain itu menurut Amin, Islam juga menumbuhkan persaudaraan yang positif. Masyarakat di Gaza yang sama-sama sedang dikepung musuh, jadi mudah saling menolong, terutama menolong mereka yang paling lemah secara ekonomi.
Salah seorang pejabat tinggi di Kementerian Dalam Negeri Palestina (kementerian yang membawahi kepolisian) menceritakan, bahwa pejabat seperti dirinya setiap bulan dipotong gajinya oleh pemerintah untuk membantu orang miskin di negeri itu.
“Setiap bulan Ramadhan, potongannya tambah besar,” tukasnya. Pejabat tinggi itu menjelaskan, rezeki para pejabat Palestina di Gaza justeru semakin berkah dengan pemotongan yang bisa sampai 30% itu.
Kunjungan dilanjutkan dengan berkeliling markas yang membentang dari tengah kota sampai ke pinggir pantai Gaza itu.
Di berbagai bagian bangunan, nampak bekas-bekas tembakan senjata-senjata pesawat tempur maupun helikopter Zionis Israel pada Perang Al-Furqan (akhir 2008 sampai awal 2009).
Lubang-lubang bekas peluru kaliber besar bertebaran di dinding-dinding bangunan, dan sengaja tidak diperbaiki. Di bagian lain markas itu, ada puluhan bom dalam berbagai ukuran dipamerkan. Ada beberapa yang besarnya lebih dari tubuh manusia dewasa. Ini adalah sebagian bahan peledak yang disiramkan Zionis kepada rakyat Gaza. “Supaya kami dan dunia tetap mengingat kejahatan Zionis Israel,” kata Muqaddam Nasser Abduh.
Kita semua tentu ingat, pemandangan yang menyayat hati pada Perang Al-Furqan yang oleh Zionis disebut sebagai Operation Cast Lead (Operasi Timah Panas) itu, dalam 10 menit pertama jam 8 pagi, tanggal 27 Desember 2008, sekitar 200-an orang petugas kepolisian yang sedang apel pagi dibantai dengan berondongan senjata dan bom oleh pesawat-pesawat F-16 bikinan Amerika Serikat milik Zionis Israel.
Selain jenazah para polisi Palestina yang bergelimpangan, kita juga menyaksikan gambar-gambar polisi yang terluka parah mengacungkan jari telunjuknya sambil berkata, “Laa ilaaha illa Allah… Tiada Tuhan selain Allah…”
Pada penyerangan Zionis Israel itu, ikut juga mati syahid tiga pejabat tertinggi Kementerian Dalam Negeri, yaitu Mayjen Pol. Taufiq Jabir, Kepala Kepolisian Palestina; Muhammad Al-Ja’bari, Direktur Unit Keamanan dan Pengawalan; dan Sa’id Shiyam, Menteri Dalam Negeri-nya sendiri.
“Ini menunjukkan, bahwa para pejabat tinggi kami adalah yang pertama kali mengorbankan nyawanya bagi rakyat Palestina,” kata Muqaddam Munir Abu Syanab. “Mereka tidak bersembunyi di balik kedudukannya sebagai pejabat tinggi. Mereka semua mati syahid di lapangan saat menjalankan tugas.”
Nama-nama para polisi yang mati syahid dalam Perang Al-Furqan itu diabadikan dalam sebuah prasasti yang terletak di lapangan Markas Besar Pasukan Khusus Kepolisian Palestina.
Di atas nama-nama itu tertulis kalimat yang dikutip dari ayat Al-Quran surah Al-Ahzab ayat 23:
“Di antara orang-orang beriman (Mu’min) itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya).”
Jumlah anggota kepolisian Palestina yang bermarkas di Gaza saat ini sekitar 10 ribu orang. Secara umum menurut Brigjen Pol. Amin Al-Batniji, tidak ada kasus kriminalitas yang luar biasa.
“Justeru kami sebagai masyarakat sedang mengalami kejahatan kriminal yang dilakukan oleh penjajah atas kami semua,” katanya sambil tersenyum.
Namun demikian, Alhamdulillah, kata Amin keamanan dan ketertiban masyarakat semakin baik.
Kasus yang sesekali masih terus mengganggu adalah penyelundupan narkoba dan minuman keras dari kawasan yang dikuasai Zionis Israel dan Mesir. Rata-rata dalam setahun ada sekitar 20 orang yang ditangkap karena kasus ini.
Kasus kejahatan lain adalah pembunuhan akibat perkelahian. Misalnya, karena ada anggota keluarga yang berzina, lalu dibunuh. Ada juga pencurian emas dan barang-barang berharga, biasanya dilakukan oleh remaja.
Menurut berbagai perbincangan dengan masyarakat awam, secara umum, Gaza yang sekarang lebih aman dari Gaza sebelum dikepung oleh Zionis Israel.
Semakin banyak perempuan yang berhijab, menutup aurat sesuai tuntunan Islam, meskipun tidak ada undang-undang yang secara eksplisit mewajibkan hijab.
Dari hasil pengamatan selama tiga minggu Tim SA2Gaza berada di Gaza, perempuan dewasa yang nampak keluar rumah tanpa menutup aurat bisa dihitung dengan jari.
Secara umum tugas petugas kepolisian Palestina di Jalur Gaza meliputi pengaturan lalu-lintas, mencegah dan memberantas narkoba, melakukan berbagai investigasi, patroli keamanan di rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, dan lain-lain.
Menurut Kepala Interpol Palestina Mayjen Pol. Mahir Ar-Ramli, ketika Gaza belum dikepung Zionis Israel dan masih berada di bawah kekuasaan pemerintah Fatah, setiap dua malam selalu terjadi pemerkosaan, pembunuhan, dan perampokan.
Menurut Mayjen Pol Mahir, di masa itu Gaza dikuasai oleh Fatah, penguasa ketika itu adalah gabungan dari kelompok-kelompok yang selalu ingin memperbesar wilayah kekuasaannya masing-masing. Termasuk juga dengan cara melindungi kelompok-kelompok kejahatan.
“Warga yang memiliki rasa takut yang besar kepada Allah SWT, tidak akan melakukan kejahatan yang menyusahkan orang lain maupun dirinya sendiri,” kata Mahir.
Dalam kesempatan berkunjung ke Pusat Pendidikan dan Latihan Kepolisian Palestina, yang terletak di pinggir pantai yang indah, Tim SA2Gaza sempat menyaksikan para anggota polisi yang baru saja apel pagi, bergantian menggunakan sajadah untuk melaksanakan solat dhuha di lapangan.
Muqaddam Hisyam Al-Kariri, Wakil Direktur Pusdiklat Kepolisian Palestina, menjelaskan kepada Tim SA2Gaza selain dididik dan dilatih keterampilan profesional sebagai polisi, seluruh anggota kepolisian Palestina juga dididik ruhiyahnya secara sungguh-sungguh.
“Selain secara rutin mereka membaca dan memahami Al-Quran, salah satu kurikulum dasar pendidikan kami juga tafsir surah Al-Anfaal dan At-Taubah yang wajib difahami dan dihayati setiap anggota kami,” kata Muqaddam Hisyam di sela-sela latihan.
Dalam memperkuat sistem ketertiban dan keamanan masyarakat, kepolisian Palestina juga melakukan kerja sama penerangan dengan masjid-masjid, saluran televisi dan radio Al-Aqsa, Al-Quds, Al-Bayan, Al-Ayyam, Ar-Risalah, dan Filistin.
Di akhir perbincangan, Brigjen Pol. Amin Al-Batniji mengundang Kepolisian Republik Indonesia untuk datang ke Jalur Gaza dan bersilaturrahim dengan kepolisian Palestina. “Ahlan wa Sahlan. Silakan datang, kalau bisa dilakukan akan menjadi suatu kehormatan bagi kami,” katanya.


Minggu, 29 April 2012

Senjata Kaum Tertindas


Kelemahan orang-orang kuat adalah kekuatan orang-orang lemah. Kelemahan orang-orang kaya adalah kekuatan utama orang-orang miskin. Sedangkan kelemahan terbesar para penguasa dzalim adalah kekuatan terhebat para rakyat jelata yang miskin papa. Bagaimana kita membangun keyakinan bahwa sekumpulan orang miskin bisa melakukan revolusi besar, bagaimana nyali kaum tertindas bisa menggerakan perubahan menuju keadaan yang lebih baik, lebih memanusiakan manusia.
Kekuatan rakyat, jika disatukan, tidak akan ada penguasa yang berdaulat. Jika rakyat bersatu seharusnya tidak bisa dikalahkan. Inilah jargon-jargon revolusi yang terus dikibarkan tanpa lelah. Rakyat tidak boleh lelah, jika lelah kekuatan mungkar akan merajalela. Setidaknya ada empat kekuatan besar yang dimiliki kaum marginal atau miskin antara lain; Pertama, orang lemah adalah orang yang paling kuat menderita. Kedua, orang lemah dan tertindas adalah orang yang tidak gampang putus asa dan mau mengorbankan apa saja yang dimiliki untuk perjuangan termasuk nyawa. Ketiga, kekuatan kelompok tertindas selalu dalam jumlah besar. Terakhir, adalah kekuatan pada doa.

Pertama, ketahanan menjalani kehidupan dalam serba kekuarangan dilakoni orang miskin turun temurun sampai cucu dan cicitnya. Ini adalah kekuatan yang tidak pernah dimiliki penguasa dan pemegang kekuasaan. Jika senjata orang lemah ini bisa dimanfaatkan, diindustrialiasikan dalam bentuk energi perubahan tentu revolusi kebaikan akan muncul tidak lama. Inilah yang disebut James Scoot (year) ’sebagai senjata orang-orang lemah’. Secara naluri orang tertindas mempunyai cara untuk bertahan dan berjuang baik dengan cara frontal atau secara diam-diam. Perubahan hanya dimulai dari keadaan buruk dan timpang.
Kedua, ada bukti empiris yang snagat kuat yang menolak pendapat Mancur Olson (year) bahwa rakyat miskin tidak akan bertindak secara kolektif walau mereka mempunyai kepentingan yang sama. Saya akui argumen tersebut ada benarnya tetapi kenyataan di beberapa tempat menunjukkan fenomena yang berbeda. Kasus perlawanan rakyat melawan kompeni di Indonesia, reformasi 1998, kasus mbah priok, kasus demonstrasi korban gempa di Yogyakarta untuk mendapatkan keadilan, kasus pembagian BLT yang didemo warga di beberapa tempat. Artinya kesadaran untuk bergerak dan menuntut hak sudah sangat lazim ada dalam pikiran dan perasaan manusia. Ada pepatah, cacing pun menggeliat jika diinjak apalagi manusia yang ditindas tentu diam bukanlah pilihan sadarnya. Mereka ingin bergerak dan merubah keadaan hanya karena buruknya pengorganisasian menjaidikan naluri ‘revolusi’-nya menciut dan mencair. Inilah pentingnya kepemimpinan kaum miskin dan dhuafa (tertindas).Orang miskin dalam sejarahnya, untuk menuntut haknya tidak segan mengorbankan nyawanya. Hal ini bisa dilihat di China, Vietnam, Indonesia, dan Timur Leste. Keberanian mati inilah kekuatan yang tidak pernah dimiliki oleh golongan penindas (kuasa).
Ketiga, orang miskin (tuna kuasa) selalu lebih besar dari jumlah golongan penindas sehingga penguasa selalu berfikir untuk memecah kekuataan massa besar rakyat dengan berbagai cara. Belanda, Amerika, atau kaum penjajah lainnya selalu menggunakan taktik mengadu domba antar sipil. Mereka menciptakan politik devide at empere atau memprovokasi massa agar terjadi konflik horizontal baik berbasis agama, ras, dan etnis. Konflik kelas sangat ditakuti oleh penguasa sebab golongan kapitalis kalah secara jumlah dan hampir dipastikan akan dilumat habis oleh massa yang panas. Karena jumlah besar inilah senjata orang tertindas menemukan kedahsyatannya. Di era negara modern negara sebagai pelaksana kekuasaan selalu takut akan diorganisasinya massa sehingga negara menangkap pemimpin massa karismatik, penulis, dan mengikis habis organisasi massa. Hal ini terlihat di era Suharto dan di zaman modern sekarang ada pamswakarsa, ada pamongpraja, ada hansip


DEMOKRASI DIPERSIMPANGAN MAKNA

Bapak Demokrasi, Filsuf besar Yunani Kuno, Plato (428-348 SM) pernah berkata: “bisa jadi demokrasi menjadi mimpi buruk dalam sistem pemerintahan”. Jika bapak Demokrasi sendiri mengatakan demikian, kenapa orang Islam membela mati-matian sistem kufur buatan kafir ini daripada sistem islam Khilafah yang menerapkan syariat Islam kaffah?
Sungguh miris ketika masih ada orang yang bangga menganut paham demokrasi, bahkan terang2an memperjuangkannya. Padahal sudah jelas bahwa demokrasi lah yang justu membuat kita (terutama umat Islam) semakin terpuruk dalam penderitaan yang berkepanjangan. Tidak arif rasanya ketika kita meneriakan “demokrasi sistem kufur!” tanpa kemudian memberikan argumentasi atasnya, hal ini juga yang diminta oleh salah seorang dosen saya. Oke Pak, ini saya jawab permintaan bapak…
Mendengar kata demokrasi, seolah2 kesan yang tertangkap adalah bagus…”kebebasan, HAM, Toleransi antarumat beragama….” namun coba deh kita lihat sampai ke hakikatnya. Coz seorang muslim akan senantiasa menyandarkan segala perbuatan, perkataan, bahkan pemikirannya pada hukum Allah kan? Nah, jadi perspektif demokrasi yang akan saya tulis ini adalah menurut Islam.

1. Demokrasi bukan Lahir dari Islam
Trus dari mana dong? Yups, Sekulerisme lahir pd zaman kegelapan Eropa, yakni ketika saat itu yang berkuasa adalah kaum gereja (Agama Nasrani). Saat itu pihak gereja (penguasa saat itu) senantiasa ‘mengisap darah’ rakyat dengan memungut pajak yang besar dari rakyatnya. Karena itulah, banyak yang akhirnya merasa terzhalimi. Kemudian muncullah kaum pemikir yang berusaha untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Kemudian dicetuskanlah ide pemisahan agama dari kehidupan yang kemudian dikenal dengan sekulerisme. Ide tersebut lahir karena adanya anggapan jika agama dicampurkan dengan pemerintahan, penderitaan lah yang akan dialami rakyatnya. Sekulerisme inilah yang menjadi akidah demokrasi. Demokrasi sendiri lahir pada era yunani Kuno. Dan saat ini Islam pun termarginalkan karena dianggap sama dengan agama yang saat itu berkuasa (nasrani), yakni tidak dapat menyejahterakan jadi harus dipisahkan dari negara. Padahal jika saja kita mau jujur pada diri kita sendiri, Islam itu bukan hanya agama ritual, tetapi Islam adalah sistem hidup. Segala aspek kehidupan ada aturannya dalam Islam; ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pertahanan, keamanan, dll. Jadi sebenarnya, Islam mampu menjawab tantangan untuk menyejahterakan rakyat.

2. Kekuasaan dan kedaulatan pun diserahkan sepenuhnya kepada rakyat, coz dengan begitu diharapkan rakyat akan memeroleh kesejahteraannya.Padahal dalam Islam, kedaulatan hanyalah milik Allah, bukan milik manusia (rakyat). Jadi, rakyat sungguh sama sekali tidak berhak membuat hukum, karena membuat hukum hanyalah hak Allah (TQS. Al-An’am:57). Dan jika diperhatikan pun, demokrasi tidak benar2 menampung aspirasi rakyat. Karena para wakil rakyat yang duduk di parlemen dn diharapkan mampu mewakilkan suara rakyat pada faktanya tidak pernah meminta persetujuan rakyat sebelum membuat hukum. Kasus Ahmadiyah sebagai contoh, MUI telah dengan tegas menyatakan bahwa aliran tersebut sesat, tetapi pemerintah tidak memberikan respon yang memadai. Perusak akidah umat itu tetap saja dibiarkan berkembang saat ini. Dan sebaliknya, ketika umat Islam meminta diterapkannya perda2 syariah, justru malah ditentang habis. Itukah demokrasi yang katanya menyejaterakan? Sudah jelas bahwa demokrasi tidak akan pernah memberikan kesempatan pada umat Islam untuk hidup di bawah hukum2 Allah.

3. Demokrasi bukanlah Syura’. Karena syura’ artinya meminta pendapat. Sebaliknya, demokrasi adalah suatu pandangan hidup dan kumpulan ketentuan untuk seluruh konstitusi, undang-undang dan sistem (pemerintahan)

4. Demokrasi mengusung empat kebebasan; berpendapat, perkepemilikan, berperilaku, dan beragama. Hasilnya: Ahmadiyah dibiarkan berkembang dengan alasan kebebasan beragama, SDA Indonesia dikuasai asing dengan alasan kebebasan berkepemilikan, Pembuat karikatur Nabi Muhammad dibiarkan bebas karena adanya kebebasan berpendapat, Para pelaku Free Seks dibiarkan dan orang2 yang mengumbar aurat didiamkan karena alasan kebebasan bertingkah laku. IRONIS. Inikah negeri yang sejahtera itu?

5. Suara Mayoritas hanya Omong Kosong. Nyatanya yang didengar adalah suara orang2 berkuasa. Istilah pemerintahan rakyat hanyalah jargon yang sengaja dipropagandakan untuk menipu rakyat, agar mereka merasa ikut serta dalam menentukan arah pemerintahan dengan berpartisipasi dalam mekanisme demokrasi. Padahal nyatanya, yang diuntungkan hanyalah segelintir orang, terutama para pemilik modal dan para elit politik.

Hh…demokrasi..demokrasi.

…yang ditawarkan hanya ilusi.



Rabu, 25 April 2012

TRANSFORMASI GERAKAN MAHASISWA

Dalam sejarah pergerakan mahasiswa masi terlihat banyak persoalan yang terjadi di ruang lingkup akademis itu sendiri, tetapi hal ini tidak pernah disikapi oleh kawan-kawan mahasiswa yang mengatakan dirinya adalah agen of change (sang pembaharu), mereka hanya bisa menjerit sakit dan berteriak dalam hati mereka tetapi mereka tak berteriak melalui mulutnya, akankah mahasiswa harus terus seperti ini ???

Setiap derap langkah kaki mahasiswa selalu melekat dalam dirinya sosok terang yang mampu menyinari sinar redup dalam diri rakyat kecil, akan tetapi sinar terang yang menjadi harapan rakyat dalam diri mahasiswa itu mulai pupus dan menghilang entah kemana, mungkinkah mahasiswa mulai kehilangan arah dan jati dirinya sebagai mahasiswa ataukah mahasiswa tidak lagi mengetahui Tri Darma Perguruan Tinggi yang mana (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat). Di dalam Tri Darma Perguruan Tinggi sudah begitu jelas, akan tetapi mahasiswa tidak lagi memandang tentang hal itu, mahasiswa hanya bisa bermain dengan pemikiran-pemikiran luar yang menguntungkan kelompok. Kepentingan yang menjastifikasi dirinya adalah Nabi Sosial, akankah mahasiswa harus tetap dengan pemikiran luar yang menyesatkan ???

Dunia mahasiswa memang penuh dengan romantika, dimana besar kecilnya akan memberi pengaruh terhadap karakter dan kecenderungan mereka. Keadaan ini secara potensial dapat membawa mahasiswa menuju pada suasana yang sebenarnya tidak bernuansa, bingung akan orientasi serta aksinya. Sebab lingkungan tempat mereka berada sedang digempur oleh beraneka ragam cara dan gaya hidup (life style) yang sepintas lalu tampak lebih menjanjikan “kebahagiaan”. Disini letak masalahnya, arah-arah kesadaran mahasiswa telah dialihkan dari masalah-masalah aktual  yang bergojolak di masyarakat menuju pada suatu keinginan untuk lebih memperoleh kepuasan jiwa lewat pemenuhan hasrat yang sifatnya instant.

Inilah realita mahasiswa saat ini. Mahasiswa yang jauh dari budaya membaca, diskusi, berfikir, dan aksi. Mahasiwa yang tidak lagi peduli dengan ketimpangan sosial disekitarnya. Mahasiswa yang hanya disibukan oleh kepentingan pribadi bahkan menjadi berhala materialisme. Mahasiswa yang lupa bahwa di negrinya masih terdapat 36,7 juta jiwa yang hidupnya di bwah garis kemiskinan, tidaK punya ruma dan hanya tidur beratap kan langit dan beralas kan tanah di pinggir-pinggir jalan

Hilangkan budaya bumkam, apatis dan pragmatis. Kaji fakta masalah secemerlang mungkin dan beri solusi atas masalahtersebut. Katakan masalah meski itu pahit, katakan kebenaran walaupun itu sakit.
Sikap maupun tindakan seseorang sangat di tentukan oleh pemekirannya, sehingga dengan merubaah cara berpikir inilah kita dapat memastikan perubahan sikap pada orang lain. Rekontruksi pemekiran mahasiswa adalah hal yang paling urgen untuk memulai proses kebangkitan dan membangkitkan taraf kehidupan masarakat. Sebab merekalah yang kelak akaan menjadi generasi penerus pendobrak perubahan dan pembangunan di negeri yang sedang terjajah oleh himpitan persoalan hidup. Intervensi asing dan krisis multidimensi yang belum memperlihatkan indikasi penyelesaian.

Hal ini tidak boleh di biarkan terus berlarut, diperlukan upaya yang keras untuk membangkitkan kesadaran yang terpendam oleh mahasiswa sebagai kontrol sosial. Disinilah letak tugas dan tanggung jawap lembaga-lembaga mahasiswa dalam mewadahi dan menyuguhkan pendidikan politik bagi mahasiswa. Hal ini tentunya harus di awali dari reidologisasi lembaga-lembaga mahasiswa itu sendiri. Lembaga-lembaga mahasiswa harus memiliki paradigma dan orientasai yang jelas dalam menyusun arah strategi pergerakan yang mengenah pada episentrum masalah, disamping itu wajib memahami peta polotik dan sosiologi yang ada di tengah masarakat. Sehingga arah gerak yang hendak dituju tidak menjadi kabur.

Di samping itu juga, dikotomi negatif yang justru menjadi pemicu rasa antipati antara pergerakan ekstra dan intra kampus harus segera dihilangkan. Keduanya harus saling bekerjasama untuk membangun dan merumuskan arah perubahan yang akan dituju yakni perubahan yang bersifat fundamental dan mengenai esensi persoalan. Untuk itu diperlukan sebuah mainframe yang menjadi sandaran gerak aktivitas mahasiswa.

Yang tidak kalah pentingnya, lembaga-lembaga mahasiswa harus menjaga kedekatannya dengan para ”mahasiswa awam”. Aktor pergerakan tidak boleh hanya dibatasi pada tingkat elit mahasiswa, yang hal ini justru akan memandulkan potensi raksasa mereka. Wilayah akar rumput harus disentuh melalui program kerja yang diprioritaskan pada pembentukan cara berfikir yang kritis dan ideologis bagi para mahasiswa. Melalui solidaritas serta program-program kerja yang konstruktif bagi pembentukan kesadaran politik mahasiswa, hal ini diharapkan dapat menjadi titik awal yang baik untuk meretas proses perubahan sosial yang benar-benar hakiki.


             


Senin, 05 Maret 2012

Pengaruh Hedonisme


Munculnya fenomena hidup mewah (hedonisme) dalam sebuah negara adalah merupakan alamat kehancuran. Karena hidup mewah dapat membuat manusia lupa dari tugasnya mengatur negara, menimbulkan pengangguran, kemalasan, dan sikap pengecut. Mereka yang terjerumus dalam hidup yang serba senang dan hanyut dalam kemewahan biasanya tidak sanggup menghadapi rintangan dan tidak mau berkorban walau cuma dengan kata-kata.

Ia mengusahakan negaranya makmur dengan kemasksiatan. Ia diktator, sehingga timbul banyak pelanggaran HAM dalam menindas rakyatnya. Akhirnya akan menjadi bom waktu yang akan meledak di kemudian hari, negara tumbang dan tidak berdiri lagi untuk selama-lamanya.

Ibnu Khaldun rahimahullah berkata: "Kehidupan mewah (akan) merusak manusia. Ia menanamkan dalam diri manusia berbagai macam kejelakan, kebohongan dan perilaku buruk lainnya". Nilai-nilai yang baik yang notabene merupakan tanda-tangda kebesaranya hilang dari mereka dan berganti dengan nilai-nilai buruk yang merupakan sinyal kehancuran dan kepunahan.

Itulah diantara ketentuan Allah swt yang berlaku pada mahluk-Nya yang menjadikan negara sebagai ajang kezhaliman, merusak struktur dan menimpakan penyakit kronis berupa ketuaan yang membawa kepada kematian.



Biografi Sederhana Shalahuddin Al-Ayubi

Shalahuddin Al-Ayubi terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nur Ad-Din atau Nuruddin Zangi.

Salahudin Al-Ayubi atau tepatnya Sholahuddin Yusuf bin Ayyub, Salah Ad-Din Ibn Ayyub atau Saladin/salahadin (menurut lafal orang Barat) adalah salah satu pahlawan besar dalam tharikh (sejarah) Islam. Satu konsep dan budaya dari pahlawan perang ini adalah perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan maulud atau maulid, berasal dari kata milad yang artinya tahun, bermakna seperti pada istilah ulang tahun. Berbagai perayaan ulang tahun di kalangan/organisasi muslim sering disebut sebagai milad atau miladiyah, meskipun maksudnya adalah ulang tahun menurut penanggalan kalender Masehi.

Selain belajar Islam, Shalahuddin pun mendapat pelajaran kemiliteran dari pamannya Asaddin Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Kekhalifahan. Bersama dengan pamannya Shalahuddin menguasai Mesir, dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimid (turunan dari Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW).

Dinobatkannya Shalahuddin menjadi sultan Mesir membuat kejanggalan bagi anaknya Nuruddin, Shalih Ismail. Hingga setelah tahun 1174 Nuruddin meninggal dunia, Shalih Ismail bersengketa soal garis keturunan terhadap hak kekhalifahan di Mesir. Akhirnya Shalih Ismail dan Shalahuddin berperang dan Damaskus berhasil dikuasai Sholahuddin. Shalih Ismail terpaksa menyingkir dan terus melawan kekuatan dinasti baru hingga terbunuh pada tahun 1181. Shalahuddin memimpin Syria sekaligus Mesir serta mengembalikan Islam di Mesir kembali kepada jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dalam menumbuhkan wilayah kekuasaannya Shalahuddin selalu berhasil mengalahkan serbuan para Crusader dari Eropa, terkecuali satu hal yang tercatat adalah Shalahuddin sempat mundur dari peperangan Battle of Montgisard melawan Kingdom of Jerusalem (kerajaan singkat di Jerusalem selama Perang Salib). Namun mundurnya Sholahuddin tersebut mengakibatkan Raynald of Châtillon pimpinan perang dari The Holy Land Jerusalem memrovokasi muslim dengan mengganggu perdagangan dan jalur Laut Merah yang digunakan sebagai jalur jamaah haji ke Makkah dan Madinah. Lebih buruk lagi Raynald mengancam menyerang dua kota suci tersebut, hingga akhirnya Shalahuddin menyerang kembali Kingdom of Jerusalem di tahun 1187 pada perang Battle of Hattin, sekaligus mengeksekusi hukuman mati kepada Raynald dan menangkap rajanya, Guy of Lusignan.

Akhirnya seluruh Jerusalem kembali ke tangan muslim dan Kingdom of Jerusalem pun runtuh. Selain Jerusalem kota-kota lainnya pun ditaklukkan kecuali Tyres/Tyrus. Jatuhnya Jerusalem ini menjadi pemicu Kristen Eropa menggerakkan Perang Salib Ketiga atau Third Crusade.

Perang Salib Ketiga ini menurunkan Richard I of England ke medan perang di Battle of Arsuf. Shalahuddin pun terpaksa mundur, dan untuk pertama kalinya Crusader merasa bisa menjungkalkan invincibilty Sholahuddin. Dalam kemiliteran Sholahuddin dikagumi ketika Richard cedera, Shalahuddin menawarkan pengobatan di saat perang di mana pada saat itu ilmu kedokteran kaum Muslim sudah maju dan dipercaya.

Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Richard sepakat dalam perjanjian Ramla, di mana Jerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristen. Setahun berikutnya Shalahuddin meninggal dunia di Damaskus setelah Richard kembali ke Inggris. Bahkan ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, hartanya banyak dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya.

Data lengkap tentang King Salahudin Al-Ayubi
Memerintah 1174 M. – 4 Maret-1193 M.
Dinobatkan 1174 M.
Nama lengkap Yusuf Ayyubi
Lahir 1138 M. di Tikrit, Iraq
Meninggal 4 Maret-1193 M. di Damaskus, Syria
Dimakamkan Masjid Umayyah, Damaskus, Syria
Pendahulu Nuruddin Zengi
Pengganti Al-Aziz
Dinasti Ayyubid
Ayah Najmuddin Ayyub
Selain dikagumi Muslim, Shalahuddin atau Saladin/salahadin mendapat reputasi besar di kaum Kristen Eropa, kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan sastra Eropa, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott.

Masa lalu memang tidak mudah pergi meskipun kita seperti tak
ingin menengoknya. Bahkan di salah satu tembok Masjid
Umayyah yang dulu adalah Katedral Yahya Pembaptis yang
dipermak jadi masjid yang indah di tahun 700-an itu, seorang
sejarawan masih menemukan sisa inskripsi ini: "Kerajaan-Mu, ya,
Kristus, adalah kerajaan abadi...."

Tapi jika masa lalu tak mudah pergi, dari bagian manakah dari
Saladin yang akan datang kepada kita kini? Dari ruang makamnya
yang kusam, mitos apa yang akan kita teruskan? Kisah Saladin
adalah kisah peperangan. Dari zamannya kita dengar cerita
dahsyat bagaimana agama-agama telah menunjukkan
kemampuannya untuk memberi inspirasi keberanian dan ilham
pengorbanan - yang kalau perlu dalam bentuk pembunuhan.

Tapi sebagian besar kisah Saladin - yang tersebar baik di Barat
maupun di Timur dari sejarah Perang Salib yang panjang di abad
ke- 12 itu - adalah juga cerita tentang seorang yang pemberani
dalam pertempuran, yang sebenarnya tak ingin menumpahkan
darah. Saladin merebut Jerusalem kembali di musim panas 1187.
Tapi menjelang serbuan, ia beri kesempatan penguasa Kristen
kota itu untuk menyiapkan diri agar mereka bisa melawan
pasukannya dengan terhormat. Dan ketika pasukan Kristen itu
akhirnya kalah juga, yang dilakukan Saladin bukanlah menjadikan
penduduk Nasrani budak-budak. Saladin malah membebaskan
sebagian besar mereka, tanpa dendam, meskipun dulu, di tahun
1099, ketika pasukan Perang Salib dari Eropa merebut
Jerusalem, 70 ribu orang muslim kota itu dibantai dan sisa-sisa
orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar.

"Anakku," konon begitulah pesan Sultan itu kepada anaknya,
az-Zahir, menjelang wafat, "...Jangan tumpahkan darah... sebab
darah yang terpercik tak akan tertidur."

Dalam hidupnya yang cuma 55 tahun, ikhtiar itulah yang
tampaknya dilakukan Saladin. Meskipun tak selamanya ia tanpa
cacat, meskipun ia tak jarang memerintahkan pembunuhan, kita
toh tahu, bagaimana pemimpin pasukan Islam itu bersikap baik kepada Raja Richard
Berhati Singa yang datang dari Inggris untuk mengalahkannya.
Ketika Richard sakit dalam pertempuran, Saladin mengiriminya
buah pir yang segar dingin dalam salju, dan juga seorang dokter.
Lalu perdamaian pun ditandatangani, 1 September 1192, dan
pesta diadakan dengan pelbagai pertandingan, dan orang Eropa
takjub bagaimana agama Islam bisa melahirkan orang sebaik itu.

Kita sekarang juga mungkin takjub bagaimana masa lalu bisa
melahirkan orang sebaik itu. Terutama ketika orang hanya
mencoba menghidupkan kembali apa yang gagah berani dari
abad ke- 12 tapi meredam apa yang sabar dan damai dari sebuah
zaman yang penuh peperangan. Tapi pentingkah sebenarnya
masa silam?

Dari makam telantar orang Kurdi yang besar itu, suatu hari di
tahun 1970-an, saya kembali ke pusat Damaskus, lewat lorong
bazar yang sibuk di depan Masjid Umayyah. Kota itu riuh,
keriuhan yang mungkin tanpa sejarah.

(Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 4, Grafiti, 1995, h.
388-390)

Ref : http://yulian.firdaus.or.id/





Siapa Syekh Ahmad Yasin?

Syekh Yasin, nama lengkapnya Syekh Ahmad Ismail Yasin lahir tahun 1938 di desa Al-Jura, sebelah selatan kota Gaza, syahid pada saat sedang puasa sunah Senin- Kamis, hari Senin, 1 Shafar 1425 H/ 22 Maret 2004 M karena dihantam rudal penjajah Zonis Israel setelah melaksanakan sholat subuh berjama’ah di masjid Al-Mujama’ Al-Islami, Gaza
Syekh Ahmad Yasin merupakan tokoh spiritual gerakan Hamas, Qiyadah/ pemimpin bagi pejuang dan rakyat Palestina melawan penjajah Zionis Israel.
Walaupun usianya uzur, kondisi tubuhnya lumpuh dari leher hingga ujung kaki, setiap hari harus menggunakan kursi roda, tidak menghalangi beliau untuk berdakwah, memimpin dan membina umat, rakyat Palestina khususnya di Gaza.
Beliau memiliki ‘izzah/ kemuliaan sehingga disegani dan dicintai kawan, ditakuti lawan dalam hal ini penjajah Zionis Israel.
Sebagai tokoh spiritual dan qiyadah dalam perjuangan, Syekh Ahmad Yasin banyak memberikan keteladanan bagi pengikutnya dan rakyat Palestina, juga bagi umat Islam yang rindu syahid di jalan Allah.
Dalam suatu khutbahnya, Syekh Ahmad Yasin pernah berkata: Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam tidak pernah ada kemenangan. Kita selamanya akan selalu berada dalam kemunduran sampai ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemmpinan yang berpegang teguh kepada Islam, baik sebagai aturan, prilaku, pergerakan, pengetahuan, maupun jihad. Inilah satu-satunya jalan. Pilih Allah atau binasa!
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS: Al-Imran/3: 126).
Suatu ketika ada seorang penganut Kristen di kota Ramallah, Tepi Barat, Bassam Hana Rabbah namanya. Dia datang menemui Syekh Ahmad Yasin untuk mengadukan permasalahannya karena ada seseorang di Gaza melakukan penipuan terhadap dirinya. Syekh Ahmad Yasin yang juga pimpinan Dewan Islah (perdamaian) dengan bijaksana mampu mendamaikan antara Bassam Hana Rabbah seorang Kristen dengan seseorang yang telah melakukan penipuan.
Syekh meresponnya dengan serius, bahkan mampu bersikap adil terhadapku. Hak-hak saya pun bsa kembali saya nikmati. Sebagai tanda terima kasih, sebagian hartaku diberikan kepada Dewan Islah, tutur Hana Rabbah.
Sebagai seorang Qiyadah/pemimpin, Syekh Ahmad Yasin tidak cinta dunia, tidak gila harta, bahkan kehidupannya sangat sederhana.

Mariyam Ahmad Yasin menceritakan tentang sikap hidup ayahnya:


Rumah ayah terdiri dari 3 kamar dengan jendela yang sudah rapuh. Rumah ini sangat sederhana sekali. Ini fakta bahwa ayahku tak cinta dunia, namun cinta akhirat. Banyak yang menawari beliau untuk memiliki rumah seperti pejabat tinggi negara, namun ditolaknya. Bahkan pernah suatu ketika, Pemerintah Otoritas Palestina memberi sebuah rumah besar di suatu kampung mewah di Gaza, . Namun Tawaran itupun di tolak, ia tidak peduli dengan berbagai ragam bentuk kesenangan duniawi.
Rumah ini sangat sempit. Tidak ada lantai, dapurpun ala kadarnya. Jika musim dingin, kami kedinginan. Namun jika musim panas tiba, kami pun kepanasan. Ayah sama sekali tidak memikirkan untuk merenovasi rumahnya. Ia justru sibuk mempersiapkan rumah di akhiratnya. Adapun kondisi psikis, Alhamdulillah, kami cukup sabar, karena kami percaya. Insya Allah, kami akan melihatnya lagi di surgaNYa nanti. Untuk itulah kami juga sangat berharap bisa mati syahid seperti beliau.
Jika Syekh Ahmad Yasin ingin kaya, harta menumpuk, rumah mewah bertingkat, mobil mengkilat lebih dari empat, makanannya serba lezat, semuanya bisa saja beliau dapatkan, bukankah beliau mempunyai pengikut yang taat, kedukukan yang memikat, akan tetapi semuanya itu tidak beliau lakukan untuk memperkaya diri di tengah pengikut dan rakyatnya yang sedang sengsara dan menderita, akibat penjajah, sekali lagi tidak!
Syekh Ahmad Yasin memiliki iman dan perasaan yang tinggi, beliau sangat cinta dan peduli kepada umat yang pada hakekatnya adalah umat Nabi Muhammad saw.
Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS:An Nisaa/4: 69).
Apakah kita semua telah meneladani beliau yang hidup sebagaimana kehidupan Rasul SAW dan para shahabatnya? Yang lebih mencintai akherat ketimbang kehidupan dunia yang murah dan menipu? Yang lebih menyukai debu-debu jihad daripada mobil-mobil mewah mengkilat? Di manakah kita sekarang? (*)


by H. Ferry Nur, S.Si, ( Sekjen Kispa )
dari: http://anitadeka.wordpress.com