Dengan berupaya menjadi orang baik dan melakukan yang terbaik, maka kebaikan itu akan selalu ada disekitar kita. Sehingga tak perlu kesempurnaan untuk bisa berbahagia. Karena bahagia sesungguhnya adalah ketika kita melihat apapun secara sempurna.

Kamis, 25 April 2013

Belum Berakhir


Tiga orang dipersimpangan jalan, mereka duduk murung diam tak bersuara. Entah apa yang mereka pikirkan. Siang dan malam tak ada bedanya, menjadi satu definisi tak terpisahkan. Jarak dan waktu, itulah bayangan fatamorgana yang mereka anggap. 

Kehadiran mereka untuk satu tujuan, kata yang tak asing bagi seorang pelajar, "Meraih Masa Depan". Dengan usaha semaksimal mungkin dengan segala kekurangan dalam keterbatasan, namun semangat mereka tetap membara. Sekalipun masalah yang datang bertubi-tubi seperti hujan membasahi bumi, semangat mereka takkan pernah padam.

Ini bukan cerita dongeng sebelum tidur, tapi realita menyadarkan mereka dengan sapaan hangat, "Hidup tak semudah seperti perkataan sang motivator" dan "Keberhasilan tak semudah diucapkan".

Sudah jelas bagi mereka, jika rasa kehilangan itu mitos, sama mitosnya dengan rasa memiliki. Pengalaman mengajarkan mereka tentang invidual fighting. Legasi egaliter antara keseimbangan naluri, doa dan gerakan.

Mereka memilih lebih baik disakiti dengan kebenaran daripada dihibur dengan kebohonngan. Mereka tak pernah takut dengan perubahan. Rasa takut bagi mereka adalah musuh utama untuk menyambut perubahan.

Hingga mereka lebih yakin dirisendiri dan jujur dalam perkataan serta tegas dalam tindakan.

Tak semua orang tahu tentang mereka, karena mereka adalah mereka maka meredam praduga dalam indahnya malam itu lebih baik.

Rabu, 10 April 2013

Jarang Dilihat

 ANAK JALANAN ATAU ANAK MANUSIA???

Mereka menyebutnya anak jalanan, ya.. demikian juga mereka menyebut saya. Walaupun saya adalah anak sepasang manusia tentunya, saya bingung dengan sebutan itu. Sejak kapan jalanan bisa melahirkan orang-orang seperti saya? Jalanan itu ibu atau bapak saya? Lantas unsur jalanan apa yang menjadi ibu dan bapak saya itu? Apakah aspal itu bapak saya dan lampu merah itu adalah ibu saya? Atau zebra cross dan rambu-rambu itu orang tua saya? Apa mungkin terminal dan bis kota itu adalah kedua orang tua saya? Lha terus mbah saya siapa? Pakde saya? Masalahnya saya ini gak setuju kalo di bilang anak jalanan, lha wong saya ini sudah menjadi “mbah jalanan”, Hahahaha.. gak penting banget bahas ini, intro aja bro.

Saya disini cuma ingin kasih kabar dari belantara kota yang semakin sesak itu, mungkin sesaknya juga gara-gara orang yang kayak saya ini, memang iya! Kalau kata pejabat pemda, “sentralisasi gembel” jadi harus di zero kan katanya wkwkwkw..

Selama ini stigma yang terbangun dari anak jalanan adalah keras, liar, nakal, brutal dan “seabreg” kata cadas lainnya. Secara kasat mata, iya, saya juga akan mengatakan hal seperti itu, karena saya memang merasakan hal seperti itu, tapi saya juga ndak setuju dan mengatakan “ya gak semuanya seperti itu lah”. Banyak dari mereka yang jauh dari paradigma cadas itu, bukan karena mentang-mentang saya adalah salah satu dari mereka yang baik-baik itu, bukan mas, bukan mbak, waktu saya nulis ini saja saya masih berstatus BERANDALAN bin KURANG SOPAN yang menganut paham BRUTALISME dengan titel “SH” kok. Bukan sarjana hukum lho pastinya, kalau kata teman saya SH itu akronim dari “susah hidup” huhuhu. Jadi saya ini berada dalam kelompok yang cadas itu.

Disini saya akan ajak anda untuk tahu sedikit kejadian-kejadian di jalanan yang menurut saya dahsyat banget, mungkin bisa jadi semacam “sentilan norma”. Norma yang biasa kita gunakan untuk menilai sesuatu.
.........................................
Anda pasti tahu apa “manusia gerobak” itu? Yups, benar sekali gambaran anda tentangnya! Maka tak perlu saya jelaskan. Saya melihat manusia gerobak di suatu malam menancapkan jidatnya di hamparan koran, berulang kali ia tancapkan, lalu berdiri lagi sambil mendekapkan tangannya di dada, lalu ia tancapkan lagi jidatnya. Ya! Kita akan segera tahu bahwa manusia gerobak itu sedang melakukan ritual sholat. Apakah kita hanya akan melihat dia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim? Lebih dari itu! Lihatlah! Ternyata dia sedang bertemu dengan kekasih sejatinya, dia bukan manusia gerobak, tapi dialah manusia sejati, dialah si kaya, dialah si sholeh, dialah hamba Allah, dialah si baik, dialah si baik, dialah si baik. Mari kawan, munculkan pernyataan dan pertanyaan terkait pemandangan tentang manusia gerobak tadi, lalu cerminkan ke diri kita, berapa pernyataan dan pertanyaan yang akan muncul? Dan bandingkan dengan cerita hidup mapan kita saat ini.

Dan kita lihat para pemulung itu. ternyata mereka itu adalah pahlawan dari kota-kota besar. Yang Tanpa kita sadari keberadaan mereka selama ini. Sadarkah kita bahwa merekalah yang mengecilkan kadar air dalam banjir kota? Sadarkah kita bahwa mereka telah meminimalisir pertumbuhan kuman dan bakteri yang merugikan? Tahukah kita ternyata mereka juga turut memutus jaringan mafia nyamuk-nyamuk yang menyebarkan penyakit demam berdarah? Karena setiap harinya ada ribuan kilogram sampah yang dibersihkian oleh mereka dari kali dan sampah yang ada disekitar lingkungan kita? Dan mereka melakukan itu tanpa pamrih dari kita, disaat yang sama, pemerintah tidak banyak berbuat apa-apa dengan biaya yang wah dari pungutan pajak kita.

“Kenek” atau “kernet”, anda juga pasti tahu akan jabatan ini kan? ya! Dia adalah co-pilot pesawat ngesot alias bis kota/metromini. Sewaktu saya melakoni peran sebagai artis dalam bis kota. Bertemulah saya dengan seorang kenek tua. Si kenek tua itu, dia selalu tersenyum dan selalu minta maaf ketika meminta ongkos penumpang. Dia melakukan itu tidak hanya ketika sewa miring alias penumpang penuh, tapi disaat penumpang sepi pun dia masih tersenyum, dan selalu minta maaf ketika meminta ongkos penumpang di dalam kesumpekan dan kebisingan si kaleng rombeng bersolar itu. Ia pun selalu memberi saran agar para penumpang untuk berhati-hati dengan barang bawaannya. Pak tua, saya sangat mengagumimu, walaupun saya ini orangnya pencemberut kelas kakap, dan juga susah untuk memaafkan, padahal saya tahu kalau saya ini juga salah, saya mengagumimu pak tua. Brader yang sempet baca artikel ini, berapa pernyataan dan pertanyaan yang akan muncul untuk kisah pak tua ini untuk kita sandingkan dengan sikap-sikap kita saat ini?

Lalu, kita lihat sesosok anak kecil umbelan yang sudah lihai melawan kerasnya kehidupan jalanan tanpa menyerah, berdikari, dan sudah mampu membantu orang tuanya, yang tetap bernyanyi lepas, tertawa riang walaupun masa kecilnya terenggut sudah, yang masih lanjutkan sekolah dan mengajinya walaupun empot-empotan untuk membayar aksesoris kebutuhan sekolahnya. Sobat, bagaimana perbandingan dengan masa-masa kecil kita? Sobat, adakah kita saat ini bercita-cita untuk menjadi kakak angkatnya? Atau mungkin orang tua angkat bagi mereka? Terbersitkah cita-cita itu dalam diri kita?

Bagaimana kalau cerita yang satu ini? Pengamen jalanan yang secara tidak langsung menjadi “polisi jalanan”, yang membuat keder para orator (tukang palak) dan copet di dalam bus kota/metromini. Dan, membuat orator berfikir sekali lagi untuk beraksi menguras dompet para penumpang saat para pengamen sedang bernyanyi, karena para penjahat itu akan menjalankan aksinya ketika bus kota/metromini itu tidak ada pengamennya. Sebab sebagian besar pengamen adalah musuh yang di takuti oleh para penjahat tadi, walaupun pengamen juga sadar kalau dia juga terkadang meresahkan dan membuat bete para penumpang pada umumnya.

Hahaha... mentang-mentang penulis adalah seorang pengamen, mungkin ada yang berfikir “ini mah tulisan sak karep’e pengamen aja” atau “wah ini mah pengamen yang terkena kuman subyektifitisme”. Hehehe.. ndak apa-apa, monggo-monggo saja, terlepas dari tulisan khusus tentang pengamen itu subyektif atau ndak, monggo silahken di ambil hikmah yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa nyata di atas..

Oke brader kabeh, sebenarnya masih banyak kisah-kisah dari kehidupan masyarakat jalanan yang tidak sebrutal kelihatannya. Semoga saya bisa mengabarkan di tulisan-tulisan selanjutnya nanti, dan bisa menjadi kisah yang menginspirasi buat kita untuk perubahan diri kita semuannya (Aamiin)

Oleh  PUNK Muslim (original page) (Catatan)

Senin, 25 Maret 2013

Aku Tetap Aku

Sok peduli, teriakan kalian menyampaikan aspirasi rakyat mulai dari jalanan hingga ke kolom-kolom media sosial. Ujung-ujungnya munafik, membela rakyat untuk kepentingan pribadi.

Ketika itu ada yang mengatakan kepadaku, 'kamu itu radikal, intoleran, fundamental'.
Saya tak mengerti ketiga bahasa itu, bahasa itu seakan-akan kehilangan keseimbangan dan makna karena hanya ditujukan pada sekelompok orang tertentu. Ku tak akan yakin, hingga tindakan yang mewakili perkataan itu.

Aku berbeda, kehadiranku tak mengharapkan pujian, keberadaanku bukan untuk mengemis simpati, aku tidak menyembah popularitas. Aku tetap aku, jika kamu mengenaliku janganlah mengingat kebaikanku simpanlah untukmu.
Banyak pertanyaan hadir bersama realita yang ada, tapi semua itu tak ada yang bertanggungjawab untuk menjelaskannya.

Saat kita duduk bersama, melihat pergeseran nilai-nilai kebenaran itu. Seolah-olah ini adalah sebuah mimpi tapi kemudian realita memabantahnya. Tak ada lagi alasan untuk mengatakan itu hayalan.

Senyuman yang kalian lihat, naluri mengatakan dia baik-baik saja.
Tapi itu adalah bahasa universal untuk kalian mengerti,
bahwa perjuangan hidup yang dia jalani
tak semudah senyuman yang dia berikan.
Merangkum semua derita, dan berakhir dengan kebahagiaan.

Kalian datang mengajakku, menyapaku untuk berbagi dalam indahnya perbedaan kita.
Itu semua akan menjadi cerita yang penuh warna, mewarnai kehidupan kita semua.

Telah ku hapuskan kata penyesalan itu dari kehidupanku.
Setiap kegagalan menjadi hasil dari sebuah usaha, ku tetap menghargainya.
Menjiwai rasa optimis, untuk bangkit dan berjuang hingga setiap impian itu dapat terwujud.

Pilhan, prinsip, perubahan.
Pilihan jelas ada, prinsip tetap utuh, perubahan untuk melengkapi keduanya.

Sabtu, 23 Maret 2013

Menembus Keterbatasan

Kemarin aku seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, selain sapaan kata 'ibu' dan 'ayah'. Aku tak mengenal siapa-siapa waktu itu, hanya mereka berdua yang pertama aku temui dan ku ingat dalam hidupku.

Saat itu, mereka mendidik ku dengan nilai-nialai kebenaran, dengan harapan agar aku tumbuh besar menjadi orang yang baik dan bermanfaat. Kasih sayang yang mereka berikan kepadaku begitu tulus serta merawatku penuh cinta, tak ada keluhan sekecilpun yang terlihat diraut wajah meraka, 'ibu' dan 'ayah'.

Pengorbanan yang begitu besar, waktu, tenaga, dan pikiran, mereka lakukan untuk kebahagiaan anaknya kelak. Ku tak paham bahasa apapun, kecuali suara yang ku dengar dari 'ibu' dan 'ayah'. Sapaan lembut seorang ibu kepada anaknya yang tak ku mengeti, namun ku rasakan kasih sayang itu terdengar oleh suaaranya .
Hingga saat inipun aku masih bisa merasakannya.

Semuanya telah berlalu kenangan-kenangan itu, bersama kepergiaan ayah dari hidup ku untuk selamanya. Duka cita mewarnai kehidupan ku bersama ibu, adik, kakak dan saudara-suadaraku yang lain. Sang Pencipta telah memanggilnya untuk kembali, namun wajah ayah tak pernah sirna dari ingatanku atas dasar pengorbanan dan tanggungjawabnya.
Linangan air mata, tangisan, kehilangan, hanya itu yang ku rasa.

Langkah tertatih-tatih, pandangan ku suram akan masa depanku sendiri. Entah darimana biaya diperoleh untuk melanjutkan pendidikan ini. Aku tak ingin memberi beban kepada ibu dan saudara-saudara ku, karena aku tahu pendapatan merekapun hanya bisa mencukupi kehidupan sehari-hari.

"Ya Allah, cobaan apa lagi yang telah Engkau berikan kepada keluargaku", sebuah kalimat yang terlintas dalam pikiranku.

"Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu, dan kesabaran kepada kami agar senantiasa sujud dan patuh pada perintah-Mu".

Tak ada yang bisa ku lakukan, kecuali berdo'a dan berusaha untuk terus bertahan, melanjutkan hidup.Sampai aku mngerti aku bukan siapa-siapa untuk mengatur atau diatur, lalu aku membunuh ketakutan diperempatan jalan dan lebih yakin diri sendiri.

Sejatinya, aku mensyukuri setiap kisah dalam hidup ku, benar dan salahnya adalah pembelajaran, pembelajaran untuk lebih mengenal kefitrahan dan terus memperbaiki diri. Menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia yang memaknai dan
bermakna.

“Aku mencintaimu, ayah…”
Hanya itu yang ingin aku bicarakan padamu
Tapi hingga kini hanya hatiku yang mampu bicara
Belum dengan lisanku
Ayah, aku ingin bicara…
Dan semoga kau mendengarnya…

Alhamdulillah, waktu terus berlalu lewati proses berpikir dan pengalaman yang didapat. Dan aku pun bisa keluar dari keterbatasan itu.

By Anakmu

Jumat, 22 Maret 2013

Pilihan Itu


Hidup itu perjuangan. Perjuangan yang tak pernah berakhir.
Di dalam harapan ada do'a dan usaha, yang akan menyelimuti semua itu adalah kesabaran. Selalu berusaha walau dalam keterbatasanku
Pelarian, bukan berarti menghindar. Ini bukan skedar pilihan tapi lebih daripada pilihan. Kondisi mengubah semuanya, waktu, pikiran, dan tenagaku.

Impian menggarisi cita-cita menuntutku untuk lalui semua ini.
Hanya perubahan yang terlintas dalam setiap langkahku.

Pada satu tema kemandirian, percaya pada kemampuan sendiri, menghargai setiap usaha. Menjadi baik, lebih baik, dan terbaik untuk masa yang akan datang.  Insya Allah itu akan tercapai #eaaa
Kesendirian membuat jiwa ini tenang, berpikir tak terhalang oleh keributan.
Inspirasipun mudah didapatkan, menembus batasan semu.

Merangkum semua cerita yang sudah terlewti, suka, duka, canda, tawa itu kenangan yang terindah. Sahabat...ku
Mengeluh hanya mengakui diri kita tak mampu mengubah keadaan yang ada
Satukan kata dan tindakan. Jangan membuat keduanya terpisah.

Sebijak-bijaknya ucapanku, akankah terlihat pada tindakanku sendiri?
Ku akui semua kekuranganku itu sebagai usaha untuk melengkapinya

Selasa, 05 Maret 2013

Baru ku tahu ...


Hanya bisa memberikan yang terbaik untukmu. Semoga itu bermanfaat.
Maaf jika kesalahan itu pernah mewarnai kebersamaan kita.
Menyapamu tak lebih hanya mengingatmu untuk selalu berbuat baik.
Diri ini yang penuh dengan kekurangan, tapi itu bukanlah alasan
untuk tidak memberi dan berbagi.

Maaf, semoga kelak kita akan bertemu pada dimensi yang berbeda. insya Allah.



:)


===========================================================================


Maaf sahabat, jika aku tak ada saat kau pergi. Kesibukan yang begitu menikam waktuku, tak ada yang bisa ku lakukan untukmu. Harapanku semoga cita-citamu tidak pernah surut dan kamu akan kembali. Semoga Allah selalu melindungi dirimu, menjagamu dan moga selamat sampai tujuan.

sampai jumpa kembali. :)

Jumat, 25 Januari 2013

Cara Membuat Blog Untuk Pemula


Cara Membuat Blog Untuk Pemula by Leuly Dzulfiqar